Pilih Warna Kesukaan Anda

Selasa, 11 September 2012

“ANALISIS PERANAN RADIO KOMUNITAS DALAM PENGEMBANGAN MASYARAKAT SEBAGAI IMPLEMENTASI PENDIDIKAN NON-FORMAL”

PENDAHULUAN
Latar belakang
Seiring perkembangan pembangunan, petani dan masyarakat perdesaan. Indonesia sudah banyak berubah dan berkembang. Pendidikannya sudah lebih baik, berwawasan kosmopolit dan telah mampu berkomunikasi secara impersonal melalui media. Kondisi ini membuka peluang ditingkatkannya usaha-usaha komunikasi pembangunan melalui media massa. Dukungan media massa diperlukan, antara lain karena media massa dapat menumbuhkan suasana yang kondusif bagi pembangunan dan dapat memotivasi serta menggerakkan peran serta masyarakat dalam pembangunan. Salah satu bentuk media massa yang potensial untuk mendukung pemberdayaan masyarakat perdesaan adalah radio.

Sedangkan jika kita tinjau dalam bidang pendidikan, sebagai salah satu  indikator  penting  ketercapaian  kualitas pembangunan  manusia adalah pendidikan. Dan pendidikan menjadi garapan yang memperoleh perhatian serius  disamping aspek  kesehatan dan  ekonomi. Keseriusan penanganan terhadap  bidang pendidikan dipicu oleh kenyataan  yang menggambarkan masih banyaknya jumlah sasaran didik yang belum terlayani kebutuhan  belajarnya  melalui  pendidikan  formal  akibat  beragam keterbatasan. Karena  alasan  itu,  perlu  dikembangkan  strategi  penanganan  lain, yakni  melalui  jalur  pendidikan  non  formal  (pendidikan  luar  sekolah)  yang berfungsi  sebagai  akselerator,  jalur  alternative,  dan  katalisator  peningkatan indeks  pendidikan. 
Esensi  dari  alternatif  model  strategi  ini  adalah  terbukanya  peluang secara  lebih  luas  dan  lebih  luwes  bagi  masyarakat  yang  kurang  beruntung secara  sosial,  ekonomi,  dan  kultural,  untuk  memperoleh  pemerataan kesempatan  dan  akses  kepada  pelayanan  pendidikan,  terutama  pada  jenjang pendidikan  dasar,  dengan  mutu  yang  memadai  standar  minimal,  dapat dipertanggungjawabkan serta memberikan manfaat sebagai bekal hidup yang strategis. Komunitas ini  mungkin termasuk ke dalam kategori  yang terpaksa putus  studi  dan  atau  tidak  dapat  melanjutkan  studi,  terisolir,  terpinggirkan karena  berbagai  hal  termasuk  korban  bencana  alam,  bencara  sosial  politik, dan  sebagainya.  Dengan  lebih  luas  diartikan  daya  akses  dapat  menjangkau peserta didik sebanyak mungkin melalui berbagai alternatif jaring pelayanan strategis  yang  tersedia  di  masyarakat.  Sedangkan  dengan  lebih  luwes diartikan  sebagai  mudah  diakses  setiap  saat  dan  tidak  terikat  dengan formalitas  kultural  dan  prosedural  seperti  pada  institusi  pendidikan  formal. 
Dengan  terencana,  dimaksudkan  bahwa  cakupan  dan  kandungan  isi/materi program  pembelajarannya  dipersiapkan  sebagaimana  mestinya,  serta  mutu yang  teruji  berdasarkan  kriteria  standar  keberhasilan  minimal  dan berkelayakan memperoleh sertifikasinya. Kenyataan  inilah  yang menjadi  dasar  pertimbangan  perlunya  pengembangan  sistem  pembelajaran jarak  jauh  berbasis  penyiaran  radio  komunitas  pada  jalur  pendidikan  non formal.  Melalui  sistem  pembelajaran  ini,  keterbatasan-keterbatasan  di  atas diharapkan dapat diatasi secara tepat dan lebih baik. 
Rumusan Masalah
            Apakah radio komunitas bisa menjadi sebagai salah satu alat atau media alternatif yang berperan untuk memberdayakan masyarakat dan pendidikan non formal bagi masyarakat luas?
Tujuan penulisan
Karya tulis ini bertujuan untuk memberikan gagasan dalam menyelesaikan masalah pemberdayaan masyarakat dan pendidikan formal yang tidak bisa dinikmati oleh semua orang khususnya yang ada di daerah Rowosari Tembalang Semarang, melalui Radio Komunitas.
Manfaat penulisan
            Karya tulis ini diharapkan dapat memberikan manfaat antara lain:
1.        Mengetahui bagaimana melakukan pemberdayaan masyarakat menggunkan media radio komunitas.
2.        Mengetahui peranan radio komunitas sebagai media penyiaran alternatif di masyarakat pedesaan.
3.        Mengetahui model pendidikan non formal dengan menggunakan media penyiaran radio komunitas.
4.        Memberikan gagasan baru bagi pemerintah untuk memperbaiki system pendidikan formal.

TINJAUAN PUSTAKA

Apa itu radio komunitas?
            Beragamnya  pemahaman  tentang  radio  komunitas  membuat  orang terkadang masih simpang siur akan definisi yang paling cocok mengenai radio komunitas. Beberapa ahli menyebut radio komunitas sebagai radio alternatif, radio lokal, radio independen, atau radio pembebasan. AMARC (Association  Mondiale  Des  Radiodiffuseurs  Communautaires)  atau Organisasi  Pegiat  Radio  Komunitas  Seluruh  Dunia  tidak  memberikan definisi  atau  rumusan  pengertian  secara  khusus.  Organisasi  ini  lebih memilih menyatakan prinsip-prinsip radio komunitas. Untuk membedah soal apa itu radio komunitas ada baiknya kita melihat berbagai definisi yang ada.Undang-Undang  Nomor  32  tahun  2002  Tentang  Penyiaran  telah menyebutkan  apa  dan  bagaimana  penyiaran  komunitas.  Dapat disimak pasal-pasal yang menjelaskan hal itu dalam boks.
1. Pasal 21 Ayat 1 :
(a) Badan hukum Indonesia
(b) Didirikan oleh komunitas tertentu
(c) Bersifat independen
(d) Tidak swasta
(e) Berdaya pancar rendah
(f) Jangkauan terbatas
(g) Melayani kepentingan komunitasnya
2. Pasal 21 Ayat 2 :
(a) Tidak  merupakan  bagian  dari  perusahaan  yang  mencari keuntungan semata.
(b) Untuk mendidik dan memajukan masyarakat.
3. Pasal 21 Ayat 3 :
(c)  Tidak  untuk  kepentingan  propaganda  bagi  kelompok  atau golongan tertentu.
AMARC tidak mendefinisikan secara khusus apa itu radio komunitas. Akan  tetapi  dalam  website  (www.amarc.org)  terdapat  tiga  esensi yang  mencirikan  sebuah  radio  komunitas: 
(1)  Tidak  mencari keuntungan,
(2) kepemilikan dan kontrol ada pada komunitas, dan
(3) partisipasi komunitas.  
Beberapa pendapat yang disadur dalam website  merupakan  komentar  beberapa  pihak  mengenai  radio komunitas yang intinya komunikasi adalah sebuah hak:
·        Radio yang menjadi pendorong bagi partisipasi warga dan juga sebagai upaya mempertahankan kepentingan mereka, semua ide di diskusikan  dalam  program  siaran  dan  semua  pendapat dihormati, ketika semua setiap kata-kata orang disiarkan tanpa diskriminasi dan disensor, inilah namanya radio komunitas.
·        Suara bagi mereka yang tak mampu bersuara (the voice of the voiceless).
·        Corong  bagi  mereka  yang  tereksploitasi, secara  umum merupakan sebuah alat bagi pembangunan masyarakat
·        Radio  komunitas  bukan  merupakan  sesuatu  yang diperuntukkan untuk komunitas, tetapi tentang komunitas yang melakukan sesuatu buat mereka sendiri.
·        Stasiun  radio  yang  terkait  dengan  hak  azasi  manusia  dan memiliki  perhatian  terhadap  lingkungan tunduk dan menghormati kode etik jurnalis dan bekerja untuk diseminasi budaya.
·        Radio komunitas telah menjadi sebuah alat yang cukup berarti bagi pengembangan masyarakat.

Akan  menjadi  lebih  mudah  jika  kita  kemudian  juga  melihat perbandingan beberapa   indikator yang membedakan antara radio swasta, publik, dan komunitas melalui tabel di bawah ini:

Tabel 1.1: perbandingan radio swasta, public dan komunitas


Swasta
Publik
Komunitas

Inisiatif
penyusunan
materi
siaran


Pengelola
berdasarkan hasil
rating (peringkat)
dari surveyor dan
juga selera/
kreativitas  para
pengelola
Pengelola
berdasarkan
keputusan
manajemen

Pengelola
berdasarkan hasil
diskusi dan
kesepakatan
bersama
komunitasnya
Orientasi
materi siaran

Diarahkan kepada
segmen pasar
yang disasar

Luas untuk
informasi kepada
publik dari
berbagai kalangan

Kepentingan dan
kebutuhan warga
di wilayah
tersebut
Sumber
Informasi

Berasal dari
informasi resmi,
pejabat formal
pemerintah/punya
nama besar, tokoh
selebritis

Pejabat formal
menurut
pemerintah

Tidak harus
pejabat, bisa
orang biasa,
tokoh informa
petani, orang
miskin dsbnya
Keragaman
tema

Cenderung
mengikuti
keinginan dan
selera pasar

Cenderung
mengikuti
keinginan dan
norma

Bergantung
kepada tema-
tema yang
dibutuhkan warga
setempat
Menggunakan
bahasa-bahasa
formal dan kaku

Pakem dan
dialek

Cenderung
mengikuti gaya
bicara orang kota
(Jakarta)

Lebih mengikuti
dialek lokal dan
kebiasaan
berbicara
setempat
Selain pihak yang
berwenang saat
ini masih
dikontrol oleh
pemerintah
karena
membiayainya

Kontrol
terhadap isi
siaran

Selain pihak yang
berwenang,
pemilik dan juga
pengiklan
mengontrol isi
siaran

Selain pihak
berwenang
adalah warga
masyarakat
langsung dan juga
Dewan Penyiaran
Komunitasnya

Gambaran Penyelenggaraan Radio Komunitas di Indonesia
Lembaga penyiaran komunitas merupakan hal yang relatif baru diIndonesia,       dan mulai bermunculan seiring bergulirnya era reformasi. Sebagai perbandingan dengan            pengalaman negara lain (Ghazali, 2002), Swedia memiliki lebih dari 2.000 radio    komunitas, dan di Denmark terdapat sekitar 300 radio komunitas yang memberikan       akses kepada 96 persen dari total jumlah penduduknya.
Radio komunitas telah banyak dimanfaatkan oleh berbagai kelompok warga      masyarakat di desa-desa seperti di Jogjakarta, Klaten, Subang dan beberapa tempat lain    di luar Jawa. Berbagai contoh yang menarik seperti terdapat di Desa Srumbung, sebuah        desa di kaki Gunung Merapi, Jawa Tengah. Radio komunitas sangat bermanfaat            sebagai "Early Warning System" atas aktivitas-aktivitas letusan Gunung Merapi yang sangat membahayakan itu. Radio ini dikelola oleh warga masyarakat bekerjasama     dengan Badan Vulkanologi Merapi untuk sedini mungkin memberitakan aktivitas gunung Merapi agar segera diantisipasi oleh warga masyarakat setempat sebagai peringatan dini untuk segera menghindari bahaya letusan (Tambuhak Sinta, 2002).
Di Desa Kapungan, Kecamatan Polanharjo Kabupaten Klaten Jawa Tengah, radio komunitas dikelola sendiri oleh warga masyarakat desa setempat sebagai media komunikasi dan pencerdasan di antara mereka. Berbagai macam hal dapat dikomunikasikan melalui siaran radio ini, termasuk hiburan-hiburan bagi warganya. Sebagai sarana pencerdasan bagi warga masyarakat, salah satunya adalah dengan menanggapi kampanye penggunaan pupuk kimia dan pestisida yang ternyata justru merusak struktur tanah dan lahan pertanian. Melalui radio komunitas, masyarakat Desa Kapungan mampu menggalang opini dan semangat warganya untuk membuat pupuk kompos sebagai pengganti pupuk kimia dan pestisida (Tambuhak Sinta, 2002).
Operasional
Karena  perannya  sebagai  alat  bagi  warga  masyarakat  untuk mewujudkan  demokratisasi  di  tingkat  lokal,  maka  di dalam menjalankan  siarannya  yang  diutamakan  bukan  pada  soal  kualitas suara penyiar, kualitas audio peralatannya, atau bahkan kepiawaian dalam memproduksi siaran, tetapi lebih kepada bagaimana isi siaran benar-benar  merupakan  upaya  pemenuhan  kebutuhan  warga masyarakat akan informasi dan komunikasi.
Pengelola  radio  komunitas  sering  terjebak  pada  keinginan  untuk sesegera mungkin meningkatkan jam siarannya, sehingga jumlah jam siaran dalam seharinya cukup panjang. Padahal penentuan lamanya siaran harus didahului dengan identifikasi terhadap kebutuhan warga masyarakat akan waktu dan berapa lama siaran yang tepat agar radio dapat  selalu  didengar  oleh  komunitasnya.  Disamping  itu   mempertimbangkan  kapasitas  yang  ada,  baik  kapasitas  pengelola yang  terbatas  (keterbatasan  waktu  para  penyiar,  kemampuan memproduksi  siaran)  maupun  terbatasnya  dana  untuk  membiayai
operasional radio. Akibatnya jam siaran yang panjang menjadi beban pengelola radio yang akhirnya kesulitan untuk memenuhinya. Bahkan sering kali untuk mempertahankan waktu dan lama siaran tersebut, yang dijalani hanyalah memperdengarkan lagu-lagu saja tanpa ada siaran yang berkualitas.
Tidak ada rumusan yang pasti mengenai hal ini. Namun sebaiknya ada pembagian tugas yang merata dan adil di antara penyiar dan juga di antara  pengelola.  Jangan  sampai  ada  ketidak  seimbangan  beban antara pengelola. Adapun yang harus dipikirkan bagaimana kegiatan radio  komunitas  ini  tidak  membuat  seseorang  harus  terganggu waktunya (terutama waktu untuk mencari penghasilan) karena harus setiap  hari  selama  berjam-jam  berada  di  studio.  Juga,  jika  harus berada dalam waktu yang cukup lama di studio, tidak ada yang boleh merasa terpaksa untuk melakukannya. Jumlah pengelola dan penyiar sangat  tergantung  pada  struktur  organisasi  dan  juga  lamanya bersiaran. Semakin panjang jam siaran, semakin banyak dibutuhkan penyiar. Akan berbeda kebutuhan penyiar bagi radio yang siaran per harinya  hanya  selama  4  jam  dibanding  dengan  kebutuhan  penyiar bagi radio yang siaran per harinya 8 jam.

METODE PENULISAN

Sumber dan Jenis Data
Data-data yang dipergunakan dalam karya tulis ini bersumber dari berbagai referensi atau literatur yang relevan dengan topik permasalahan yang dibahas. Validitas dan relevansi referensi yang digunakan dapat dipertanggungjawabkan. Jenis data yang diperoleh berupa data sekunder yang bersifat kualitatif maupun kuantitatif.

Pengumpulan Data
Penulisan karya tulis ini dilakukan dengan menggunakan studi pustaka dengan menelusuri rujukan terkini yang terkait dengan topik utama permasalahan. Literatur yang digunakan merupakan literatur yang telah dikaji validitasnya dan mendukung dalam penguraian masalah.

Analisis dan Sintesis Data
Setelah data terkumpul, kami melakukan penyusunan data dengan sistematis dan logis. Gagasan penulis dalam mengembangkan gagasan peranan radio komunitas sebagai media pemberdayaan masyarakat dan pendidikan non formal berasal dari pengamatan empiris dan hasil analisis berbagai rujukan. Radio komunitas bisa berperan sebagai salah satu media alternative yang bisa digunakan untuk pemberdayaan masyarakat terutama di pedasaan, sebagia media promosi inisiatif masyarakat, pengentasan kemiskinan dan pendidikan non formal dengan system jarak jauh. Selanjutnya dilakukan penarikan kesimpulan dan saran yang dibutuhkan demi mendukung gagasan yang kami usulkan.






ANALISIS  DAN SINTESIS

Peranan Siaran Radio dalam Pembangunan Pertanian dan Perdesaan
            Pembangunan pertanian dan pedesaan yang telah dilaksanakan selama ini, disatu sisi telah berhasil mengubah wajah pertanian dan perdesaan Indonesia. Disamping perubahan di bidang prasarana fisik, teknologi dan produktivitas pertanian, para petani Indonesia juga telah berubah secara nyata. Secara makro populasi petani telah menjadi lebih kecil jumlahnya secara persentase tetapi lebih tinggi kualitasnya, yang ditandai oleh lebih baiknya tingkat pendidikan mereka, lebih mengenal kemajuan, kebutuhan dan harapan-harapannya meningkat, dan pengetahuan serta keterampilan bertaninya juga jauh lebih baik.Dengan memperhatikan keadaan dan perubahan pembangunan pertanian dewasa ini beserta tantangan-tantangan yang ada, sangat perlu dipersiapkan strategi pendidikan masyarakat perdesaan yang efektif dalam menunjang pembangunan.
Hal ini mengingat kegiatan pendidikan masyarakat perdesaan melalui penyelenggaraan penyuluhan pertanian belum dapat memenuhi aspirasi dan kepentingan masyarakat sasaran. Beberapa hasil penelitian melaporkan bahwa keadaan penyuluhan pertanian di Indonesia sampai pertengahan tahun 1990-an kurang memberi dukungan kepada kebutuhan petani-nelayan, penerapan prinsip-prinsip agribisnis, sumberdaya, keterpaduan antar lembaga, otonomi daerah dan peranserta masyarakat (Harun, R.,1996).
Salah satu strategi pendidikan masyarakat perdesaan yang dapat ditempuh adalah melalui media massa seperti siaran radio. Menurut Schram (1964) dalam Depari, dan MacAndrews (1995), peranan utama yang dapat dilakukan media massa dalam pembangunan adalah membantu memperkenalkan perubahan sosial. Dalam hal ini media massa dapat dimanfaatkan untuk merangsang proses pengambilan keputusan, memperkenalkan usaha modernisasi, serta menyampaikan program pembangunan kepada masyarakat perdesaan. Dengan kata lain peranan media massa adalah sebagai agen pembaharu (Agent of social change).
Di banyak negara berkembang di Asia, Afrika dan Amerika Latin, radio umumnya telah menjadi media massa utama dan memegang peran penting dalam pembangunan pertanian dan perdesaan. Penelitian di berbagai negara seperti dilaporkan menemukan bahwa media siaran radio efektif sebagai media pendidikan masyarakat perdesaan, seperti di India, Cina, Taiwan dan Filipina (lihat Jahi, 1993); Depari dan MacAndrews, 1995).

Radio  Komunitas  dalam  Pemberdayan Masyarakat Lokal
Pemberdayaan (empowerment) masyarakat menjadi salah satu aspek yang penting dalam  pembangunan. Program pemberdayaan masya-rakat sebaiknya tidak hanya menunggu program program pembangunan yang dilaksanakan pe-merintah, tetapi bagaimana seluruh masyarakat dapat berperan aktif memaksimalkan potensi yang dimiliki. Dengan demikian partisipasi masyarakat dalam pembangunan dapat diwujudkan melalui upaya-upaya menggali potensi yang ada di ma-syarakat.
Potensi-potensi yang dimiliki setiap masyarakat selalu berbeda-beda. Ada yang prospek-tif di bidang pertanian, perikanan, peternakan, kewirausahaan, perdagangan, kebudayaan dan sebagainya. Oleh karena itu, dibutuhkan sarana, prasarana, pengelolaan dan strategi yang berbe-da. Istilahnya adalah berbasis lokal. Artinya ada-lah segala macam bentuk upaya terhadap suatu wilayah harus berdasarkan karakteristik lokal yang unik dan spesifik, di mana setiap daerah tidak dapat disamaratakan.
Semangat  tersebut  selaras  dengan  ha-dirnya radio komunitas. Radio komunitas hadir untuk memenuhi kebutuhan komunitas yang unik dan spesifik, yaitu memenuhi kebutuhan informasi komunitas yang tidak dapat dipenuhi oleh me-dia massa pada umumnya (media mainstream). Ia hadir dalam komunitas yang kecil karena ra-dius jangkauan siarannya hanya 2,5 km, tidak berorientasi pada bisnis dan bersifat independen
Melihat  karakteristik  radio  komunitas tersebut, sangatlah tepat  jika radio komunitas dimanfaatkan untuk kegiatan yang positif, yaitu memberdayakan masyarakat lokal (komunitas); lebih dari sekedar fungsi hiburan atau relaksasi. Acara-acara (contents) radio komunitas dapat digunakan sebagai alat untuk menggali potensi yang ada dalam komunitas tersebut. Misalnya sa-ja radio komunitas Swara Desa yang ada di Desa Brosot Kecamatan Galur Kulon Progo.
Sebagai radio komunitas yang diprakarsai oleh warga masyarakat secara gotong royong,  radio Swara Desa berupaya memaksimalkan potensi radio tersebut untuk kepentingan masyara-kat komunitasnya. Melalui dukungan dari para penggerak dan kelompok monitor yang aktif, Ia hadir sebagai sarana warga komunitas mencoba mengenali  dan memaksimalkan potensi  yang ada dalam masyarakat tersebut melalui acara-acara-nya.
Menurut penjelasan Heru, selaku pimpin-an Radio Swara Desa, hal ini berawal dari asumsi bahwa masyarakat membutuhkan informasi yang ada di desa Brosot; baik mengenai masalah Bank Pembangunan Daerah (BPD), Anggaran Penda-patan dan Belanja Daerah (APBD), pertanian, pe-ternakan, perdagangan, kesehatan dan sebaginya melalui radio komunitas, yang berbeda dengan informasi yang diterima melalui radio komersial. Visi utamanya adalah menjadi media yang dapat menyampaikan segala sesuatu yang ada di desa Brosot untuk memajukan masyarakat Brosot.

Pendidikan Jarak Jauh dengan Media Radio Komunitas pada Jalur Pendidikan Non Formal
Pendidikan non formal menurut Coombs (1973), ialah setiap kegiatan terorganisasi  dan  sistematis,  di  luar  sistem  persekolahan  yang  mapan, dilakukan secara mandiri atau merupakan bagian  penting dari kegiatan  yang lebih  luas,  yang  sengaja  dilakukan  untuk  melayani  peserta  didik  tertentu  di
dalam mencapai tujuan belajarnya8. 
Pemahaman  tentang  pendidikan  non  formal  ini  diasosiasikan  dengan  pendidikan  luar  sekolah,  karena  biasanya  ditawarkan  oleh  lembaga-lembaga di luar sekolah formal dan pendidikan orang dewasa (adult education) karena diikuti  oleh  orang-orang  yang  berusia  di  atas  usia  sekolah.  Memang  tidak realistis  bila  kita  mengharapkan  semua  jenis  pendidikan  diberikan  di  dalam bangku  sekolah,  karena  jangka  waktu  sekolah  itu  sedemikian  singkat.
Dalam  pendidikan  jarak  jauh,  program-program  itu terbuka bagi siapa saja dan dimana saja. Waktu untuk mempelajarinya sangat fleksibel  mengikuti  kesempatan  dimiliki  pesertanya.  Tempatnya  pun terserah peserta, dimana saja. Hanya sedikit pertemuan tatap muka yang terikat dengan tempat.
Dalam  konteks  yang  lain,  sistem  pembelajaran  jarak  jauh  berbasis radio  komunitas  dikonseptualisasikan  berdasarkan  kerangka  kerja komunikasi  pembangunan  yang  memiliki  tujuan  terbatas  untuk pemberdayaan  rakyat  melalui  pembangunan  masyarakat  dan  penguatannya. Kerangka  kerja  konseptual  teoritik  ini  berguna  untuk  mengarahkan  aktivitas penyiaran  radio  selama  dan  setelah  produksi.  Kerangka  kerja  ini  dapat menjadi  model  untuk  mengarahkan  dan  mendorong  aktivitas  pembangunan melalui  community-based  radio  distance  learning  system.  Kerangka konseptual  sebagaimana  dimaksud  di  atas,  diilustrasikan  sebagai  model sistem berdasarkan content, context, process and format.

Pentingnya Khalayak dalam Siaran Radio Komunitas
Fraser dan Estrada, seperti dikutip Ghazali (2002) memasukkan lembagapenyiaran swasta (komersial) dan lembaga penyiaran publik (yang diatur pemerintah) ke dalam kategori mencecoki dan memperlakukan pendengarnya sebagai obyek semata. Berbeda dengan radio komunitas yang memperlakukan pendengarnya sebagai subyek dan peserta yang terlibat. Untuk itu, agar dapat melayani kebutuhan komunikasi, informasi dan pendidikan khalayaknya, maka radio komunitas harus membatasi daerah jangkauan siarannya pada komunitas berdasarkan geografis tertentu. Dengan luas jangkauan yang kecil dan terbatas, juga akan (relatif) semakin murah biaya pendirian dan operasionalisasinya, dan memudahkan manajemen stasiun sehari-hari.
Unsur penting dalam pendirian lembaga penyiaran komunitas adalah legitimasi dari (sebagian besar) anggota komunitasnya, sebagai khalayak siaran radio komunitas. Jika tidak terdapat legitimasi tersebut, maka kita dapat menyatakan bahwa pendirian stasiun radio komunitas tersebut hanyalah kehendak sekelompok orang (misalnya aktivis LSM dan atau Kantor Inkom) yang mengatasnamakan komunitas tertentu. Keberadaan radio komunitas hanya akan kuat jika didukung anggota komunitasnya, tanpa itu jangan harap radio komunitas akan bertahan hidup di tengah komunitasnya.
Bagaimana agar sebuah lembaga penyiaran komunitas bisa mendapatkan dukungan dan legitimasi dari anggota komunitasnya ? Syarat utama yang harus dipenuhi adalah adanya partisipasi anggota komunitas, mulai dari tahap perencanaan, penyelenggaraan siaran, sampai evaluasi penyiaran radio komunitas.
Pada tahap perencanaan, anggota komunitas hendaknya dilibatkan dalam
menetapkan visi, misi dan tujuan radio komunitas. Visi dan misi sebuah radio akan sangat menentukan jenis program siaran dan aktivitas lain yang dijalankan radio. Mengingat anggota suatu komunitas sangat besar jumlahnya, maka metode-metode partisipatif dapat digunakan untuk memberikan kesempatan berpartisipasi, seperti metode diskusi kelompok terarah (FGD), metode angket, wawancara mendalam dan sebagainya. Dengan metode-metode tersebut digali kebutuhan komunikasi, informasi dan pendidikan masyarakat, permasalahan yang dihadapai, harapan-harapan terhadap radio komunitas, dan bagaimana bentuk keterlibatan anggota komunitas.

Peranan Media Radio Komunitas dalam Kegiatan Instruksional
Siaran  radio  dalam  kegiatan  pendidikan  mengandung  dua  jenis kegiatan,  siaran  radio  yang  mengandung  unsur  pendidikan  dan  siaran  radio                                           untuk pendidikan  Media  radio  dalam  kegiatan  instruksional  dimaksudkan sebagai  kegiatan  belajar  yang  berkisar  antara  belajar  formal  di  kelas  sampai  pada  kegiatan  belajar  secara  individual.  Untuk  mengisi  kegiatannya  antara dua  titik  bentangan  ini,  media  radio  dalam  proses  pembelajarannya memerlukan  perancangan  program  yang  matang.  Desain  kegiatan instruksionalnya  harus  memenuhi  segala  kebutuhan  aspek  kegiatan pembelajaran yang komunikatif untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan dalam kurikulernya. 
Media siaran radio dalam aplikasi teknologi pendidikan dimanfaatkan pada  empat  proyek  kegiatan  belajar  yang  menurut  Wilbur  Schramm  (1977) dalam  bukunya  ”Big  Media,  Little  Media”  diarahkan  dalam  kegiatan pembaharuan    dalam  pendidikan,  pemanfaatan  media  dalam  perluasan sekolah  dan pemanfaatan untuk kegiatan pendidikan non formal. 
Peranan  media  radio  dalam  kegiatan  pembekajaran,  bisa  berperan sebagai suatu kegiatan  yang mandiri, atau melengkapi media utama lainnya, ataupun sebagai media utama yang dibantu dengan media-media lainnya atau bersama-sama  dengan    media  lainnya.  Peranan  media  radio  dalam  sistem pembelajaran jarak jauh adalah sebagai salah satu media penunjang terhadap media  utama,  yaitu  modul,  serta  bekerjasama  dengan  media  lainnya.  Media radio  sebagai  satu  sub  sistem  pembelajaran  jarak  jauh  dirancang  dengan mempertimbangkan  pertentangan  antara  potensi  yang  dimiliki  dan pemanfaatan  kegiatan  pendidikan  yang  akan  dilakukan;  antara  kemampuan yang dimiliki media audio dalam memperbakiki kualitas pembelajaran. 
Asumsi dasarnya adalah bahwa akar permasalahan bagi dunia ketiga  dan  penduduknya  (perilaku,  nilai-nilai  yang  tidak  inovatif,  rendahnya produktivitas  dan  lain-lain)  adalah  berakar  dari  kurangnya  pendidikan  dan informasi.  Konsekuensinya  akar  permasalahan  yang  dihadapi  dunia  ketiga akan selesai jika informasi ditingkatkan. Atas dasar itu, system media massa yang  ada  lantas  dirancang  pesannya  secara  baku  dan  atas  ke  bawah. Masyarakat penerima pesan dianggap pasif dan ditempatkan sebagai objek. Inilah  yang  kalau  menggunakan  istilah  Paulo  Freire  disebut  sebagai “model  komunikasi  gaya  bank”  (banking  system).  Artinya,  komunikasi dimana    segelintir  orang  “pintar”  memberi  pesan,  mengalihkan  “tabungan” pengetahuan,  nilai  dan  norma-norma  mereka  kepada  masyarakat  “bodoh” sebagai  penerima  pesan,  agar  kelak  mereka  “membelanjakan”  segenap dalam Kegiatan Instruksional. Makalah. Disampaikan pada Seminar di Bandung.






KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan
            Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa radio komunitas dapat menjadi media penyiaran alternatif, untuk mengisi “celah” kebutuhan komunikasi, informasi, pendidikan dan juga hiburan yang selama ini tidak diperhatikan oleh lembaga penyiaran publik dan terlebih oleh lembaga penyiaran swasta komersial yang lebih mengedepankan keuntungan finansial dengan menjadikan khalayak sebagai obyek semata. Karena lembaga radio komunitas merupakan lembaga yang dibentuk dari, oleh dan untuk komunitas, maka radio komunitas dapat menjadi wadah pemberdayaan masyarakat perdesaan untuk bersama-sama berpartisipasi meningkatkan kualitas kesejahteraan anggota komunitas.
            Pemanfaatan radio komunitas untuk perluasan pendidikan nonformal diyakini  mampu  memberikan  kontribusi  positif  terhadap  praktek  pendidikan non  formal.  Sebagai  media  massa  yang  memiliki  keluasan  jangkauan  dan jaringan,  radio  komunitas  diharapkan  mampu  menjembatani  berbagai keterbatasan  yang  dihadapi  oleh  institusi  penyelenggara  layanan  Pendidikan Non Formal, maupun hambatan yang dialami oleh komunitas sebagai sasaran Wajar  Dikdas  9  Tahun.  Dalam  keterbatasan  lokasi,  ruang  dan  waktu, komunitas  sasaran  diharapkan  mampu  akses,  berpartisipasi,  dan  mengelola sendiri radio komunitas sebagai media pembelajaran yang efektif.

Saran
1.      Perlu adanya program-program yang jelas bagi radio komunitas tersebut, sehingga tujuannya sebagai media pemberdayaan masyarakat dan pendidikan jarak jauh pada pendidikan non formal dapat terpenuhi.
2.      Perlu adanya struktur pengelola yang jelas, sehingga pelaksanaan program radio komunitas bisa berjalan dengan baik.
3.      Dibutuhkan dukungan dari pemerintah dan warga setempat terkait pengadaan perangkat radio komunitas dan perizinan.
4.      Perlu adanya manajemen keuangan agar radio komunitas tersebut bisa tetap siaran.
DAFTAR PUSTAKA
Ali Azis, Muhammad, 2005.Pendekatan Sosio Kultural dalam Pemberdayaan Masya-rakat, dalam Model-Model Pember-dayaan Masyarakat,  editor Rr. Suhartini dkk.Pustaka Pesantren: Yogyakarta
Arsyad,  Lincoln,  Satriawan,  Elan,  Handoyo Mulyo,  Jangkung,  Fitrady,  Ardyanto.2011.Strategi Pembangunan Perdesaan Berbasis Lokal.STIM YKPN Yogyakar-ta: Yogyakarta
Chusmeru.  (2001).  Komunikasi  di  Tengah  Agenda  Reformai  Sosial  Politik. Bandung: penerbit Alumni.
Departemen  Pendidikan  dan  Kebudayaan.  1994.  GBPP  Kurikulum  1994, bidang studi BI. Jakarta: Depdikbud.
Ellis, A. Dkk. (1989). Elementary Language Arts Instructions. New Jersey: Prentice Hall inc.
Prakoso Imam, Nashir Akhmad, dkk.2000.Mengapa Harus Radio Komunitas?.combine resource institution: Yogjakarta
Soetomo,  2011.Pemberdayaan  Masyarakat.Pustaka Pelajar: Yogyakarta.
Rr  Suhartini, A. Halim,  Imam  Khambali, Abd Basyid.2005.Model-Model  Pember-dayaan Masyarakat.Pustaka Pesantren: Yogyakarta
Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2003.
Undang-Undang Penyiaran Nomor 32 Tahun 2002.