Kumpulan Puisi Tentang Cinta - Gudang Ilmu

Tuesday, September 21, 2021

Kumpulan Puisi Tentang Cinta

 



Puisi Nikah

Oleh: Noor Cahyo

 

Satu kata yang begitu indah “nikah”,

Ah..tapi nyatanya,

pernikahan tak selalu indah.

 

Nikah,

Kata orang, bersatunya 2 jiwa yang kara,

Lebih dari itu, nikah adalah bersatunya 2 buah keluarga,

 

Oh betapa indahnya,

Bayangan pernikahan menghantui insan muda,

Tak tahu disana ada amanah yang tak biasa,

 

Jika engkau tak siap jiwa dan raga,

Mending tak usah berfikir kesana,

Tetaplah setia pada dunia,

Dan terus berkarya untuk bangsa,

 

Nikah…

Kata orang ikatan suci,

Ah..naif dan munafik,

Tak ada manusia suci di dunia ini,

Tetap saja, nikah hanya menghalalkan

hubungan yang diharamkan.

 

Nikah…

Kata orang sunah Nabi,

Ah..itu hanya dalil sana-sini,

Untuk motivasi jiwa-jiwa yang sendiri,

Tanpa tahu, apa makna “nikah” itu sendiri,

 

Nikah..

Kata orang bagian setengah agama,

Apa benar itu adanya..??

Ah tidak, itu hanya pembenaran semata,

Enak saja agama dibeli dengan harta,

 

Nikah..

Kata orang nikmat sekali,

Percaya nggak percaya kalau ini,

Iya..tergantung dia yang menjalani,

 

Nikah…

Kata orang menambah rezki,

Iya, menambah rezki bagi istri,

Bagi suami tanggungan sampai mati,

 

Nikah..

Kata orang hanya ijab sah,

“Aku terima nikahnya…dengan seperangkat alat sholat”,

Tak abis pikir,

Anak orang dibeli dan dihargai

dengan alat sholat..??

Lucunya..abis itu alatnya tak pernah disentuh lagi,

 

Nikah..

Aku pikir emang indah,

Tapi aku tahu tak ada indah yang selalu merekah,

Hingga saatnya tiba ditaman surga,

 

Nikah..

Kata orang cukup satu istri,

Kalau yang ini benar sekali,

Lalu bagaimana dengan Nabi?

Kita kan bukan manusia suci seperti Nabi?

 

Nikah…

Kata orang untuk melanjutkan keturunan,

“qurrota a’yun waj ‘alna lil muttaqima imaman”

Tak bisa dipungkiri itu juga sebuah tujuan,

Bahkan do’a bagi orang-orang beriman,

 

Tanpa keturunan,

Apa yang nanti Nabi banggakan,

Dari umatnya yang sekarang?

 

Oh menikahlah denganku..

Siapa yang tak mau dirayu seperti itu..??

Aku juga mau,

Eits ntar dulu..

 

Engkau juga harus tahu hak dan kewajibanmu,

Ibadahmu, kerjamu, harus mapan dulu,

Agar penikahanmu tak berakhir dengan derita melulu,

 

Nikah…

Akhirnya begitulah orang-orang mengartikannya,

 

“Asrama Etos”

Ahad, 16/12-12

 

Sajak Cinta

Oleh: Noor Cahyo

 

Cintaku padamu tiada umpamanya,

Cinta adam-hawa tiada apa-apanya,

Apalagi romeo-juliet itu belum seberapa,

Cinta qais-laila? Ah itu hanya sebuah cerita,

 

Cintaku padamu tiada ibaratnya,

Ibarat bunga dan kumbang,

Bunga layu, ah…kumbangpun tak mau,

 

Ibarat bulan dan bintang,

Ah keduanya hanya terlihat diwaktu malam,

 

Itulah cintaku padamu,

Tiada ibarat dan umpama,

 

Sebab,

Akulah semilir anginmu,

Akulah ombak lautmu,

Akulah cahaya mataharimu,

 

Oh kasih,

Sebab akulah dirimu,

Kita dua tapi satu jiwa,

 

“Asrma Keluarga Mahasiswa”

Rabu, 12/12-12

Jam 11.00

 

 

Jangan Lupakan Aku

Oleh: Noor Cahyo

 

Jangan lupakan Aku,

Karena Aku selalu Ada dalam hidupmu,

 

Aku akan selalu Ada,

Dan akan tetap Ada,

Adanya Aku adalah Adanya Engkau

Kita ini adalah satu Ada,

 

Karena Ada adalah Ada,

Tiada bukan lawan kata Ada,

Karena tiada adalah tiada,

Dan yang ada hanyalah Ada,

 

Sungguh aku tak meng-ada-ada

 

Jadi, jangan lupakan Aku,

Karena Aku selalu Ada dalam hidupmu,

 

“Semarang, 2012”

 

 

Dengan Namamu

Oleh: Noor Cahyo

 

Apa yang ku bayangkan

tentang dirimu,

Selalu sama muncul bersama namamu,

 

Apa yang ku ingat

tentang peringaimu,

Selalu saja namamu ada disitu,

 

Apa yang ku pikirkan

tentang keindahanmu,

Selalu saja yang aku jumpai adalah namamu,

 

Akhirnya,

Dengan namamu,

Aku pun hidup.

Dengan namamu,

Aku pun mati,

 

Ah…ada apa dengan namamu…???

 

Jangan Pergi Dariku

Oleh: Noor Cahyo

 

Jangan pergi dari Aku,

Apalah artinya aku tanpa Engkau,

 

Aku tak bisa,

Aku tak berdaya,

Aku tak kuasa,

Hidup tanpa Engkau,

 

Jangan pergi dari Aku,

Mungkinkah Aku hidup tanpa Engkau?

 

Aku takut,

Aku sepi,

 

Jangan pergi dari Aku,

Wahai Engkau yang di Cintai

 

“Semarang, 2012”

 

 

Senyumanmu

Oleh: Noor Cahyo

 

Pagi…

Saat mentari menyinari,

Ada jiwa yang risau tiba-tiba menari,

 

Ini..

Apakah ini?

Dari mata turun ke hati…

 

Wajah penuh tanya,

Seolah seperti fenomena,

Menampar jiwaku yang mati rasa,

 

Disatu sudut diantara bunga-bunga,

Mata itu beradu tanpa sebuah kata,

 

Senyum…

Aku lihat bibir manismu tersenyum,

Oh betapa indahnya,

 

Apalagi pancaran sinar wajahmu,

Membuatku terkagum-kagum,

Oh betapa mempesonanya,

 

Apalagi saat itu kau terlihat malu-malu,

 

Siapa…???

Siapa gerangan dia…???

Siapa makhluk itu, yang Tuhan ciptakan

Dengan segala keindahanNya,

 

Oh Tuhan,

Aku tak bisa berkata-kata,

 

Saat itu kau bersepeda,

Sungguh kau sederhana dan bersahaja,

Sesederhana saat kau tersenyum buta,

Namun kau berlalu begitu saja,

 

Oh Tuhan,,,

Sudah cukup itu saja,

Aku yakin Engkau adalah Dzat yang Maha Indah,

 

Asrama Keluarga Mahasiswa,

Rabu, 12/12-12

Jam 10.55

 

 

Mari Bermain Bersamaku

Oleh: Cahyo

 

Tak ada permainan yang lebih asyik, selain permainan ini.

Biar kau tak bingung,

Aku jelaskan dulu aturan mainnya.

 

Jika kau kalah, kau tak boleh minum anggur yang manis ini.

Namun jika kau menang, kau boleh minum sepuas-puasnya, bahkan kau boleh membawa pulang gelasnya.

 

Ini adalah permainan yang menakutkan,

Jika kau tak punya senjata yang ampuh.

Senjatanya adalah bunga bakung iman yang kau tanam di hatimu.

Karena musuh yang kau hadapi punya banyak tipu muslihat.

 

Permainannya mudah, kau tak boleh terpedaya ketika musuhmu menipu.

Asyik bukan…???

 

 

Aku Masih Tak Mengerti

Oleh: Noor Cahyo

 

Aku masih tak mengerti,

Begitu sederhana kata-katamu,

Namun bagiku itu tak mudah dihayati,

 

Begitu sederhana, namun penuh makna,

Aku masih tak mengerti,

Aku percaya begitu saja,

 

Seperti gelap malam ini,

Yang juga sederhana,

Namun penuh misteri,

 

Aku masih tak mengerti,

Apakah gelap menutupi cahaya,

Atau cahaya yang menutupi gelap,

 

Tapi aku cinta malam,

Meski gelap, tapi saat itulah aku bisa

Memandang lukisan langit,

 

Meski gelap,

Saat itulah aku bisa berucap “selamat malam”,

 

 

 

Tasbih

Oleh: Noor Cahyo

 

 

Indah nian namamu,

Begitu indah, hingga semesta mengagungkan namaMU,

Subhanallah, “Maha Suci Allah”

Begitulah semesta bertasbih dengan namaMu,

 

O tasbih..

Engkau tak pernah ternodai,

Tak peduli jari-jari yang lentik,

Selalu menyentuh dan memutarmu,

Setiap waktu,

Engkau tetap suci, sesuci namaMu,

 

O tasbih…

Engkaulah simbol kesucian,

Setipa jiwa selalu menyucikanmu,

 

Itulah wujud dan namamu “tasbih”

 

“Semarang, 2012”

 

Bagikan artikel ini

Silakan tulis komentar Anda